Menakar Kebutuhan dan Kemampuan Fixed Broadband di Indonesia

Oleh: Dheny Sunjaya

MarkPlus Inc., melalui MarkPlus Industry Roundtable yang diadakan pekan lalu mengumumkan hasil survey terbaru, dimana isinya mengungkapkan bahwa selama masa pandemi COVID-19 (sejak Maret 2020), mayoritas masyarakat Indonesia menambah penggunaan kuota internet seluler bulanan dengan menggunakan fixed broadband.

Sebesar 52,1 persen masyarakat non-Jabodetabek harus menambah pembelian kuota internet seluler selama pandemi. Adanya kebijakan bekerja dari rumah mendorong masyarakat untuk meningkatkan kapasitas kuota internet di rumah.

Kebutuhan kuota internet masyarakat non-Jabodetabek meningkat, sebanyak 22,9 persen mengkonsumsi kuota lebih dari 30 gigabyte (GB) hingga unlimited yang mendorong mereka memilih untuk memasang layanan fixed broadband di rumah.

Berbeda dengan masyarakat non-Jabodetabek, sebanyak 63,5 persen masyarakat Jabodetabek mengaku tidak menambah maupun mengurangi kuota internet karena rumah mereka sudah dilengkapi dengan fixed broadband selama ini.

Namun, kenaikan penggunaan kuota sama-sama terjadi, fixed broadband yang semula menjadi pelengkap layanan di rumah selain penggunaan kuota internet mobile broadband dari operator seluler, selama masa pandemi menjadi layanan utama karena masyarakat memilih mengoptimalkan kuota unlimited dari fixed broadband melalui Wi-Fi, dibandingkan dengan menambah kuota langganan internet seluler.

Hasil survey yang dilakukan oleh MarkPlus kepada korespondennya menyatakan bahwa terdapat tiga kegiatan yang dianggap paling banyak menghabiskan kuota internet. Kegiatan tersebut adalah video konferensi secara daring untuk mendukung kegiatan belajar dan bekerja di rumah, menonton video secara daring, serta bermain media sosial.

Dari paparan di atas, terlihat bahwa peningkatan penggunaan kuota internet dipicu oleh adanya kebijakan belajar dan juga bekerja di rumah di masa pandemi COVID-19 ini.

Kebutuhan kuota yang besar dengan layanan internet yang stabil menjadi peluang bagi fixed broadband untuk menjangkau masyarakat dengan lebih luas seperti apa yang telah dilakukan oleh mobile broadband selama lebih dari 10 tahun terakhir di Indonesia.

Sayangnya, membangun dan memaksimalkan jaringan pita lebar untuk layanan fixed broadband di Indonesia tidak bisa dilakukan dengan cepat. Penetrasi fixed broadband di Indonesia belum merata sehingga sangat wajar jika masyarakat di daerah lebih mengandalkan internet seluler karena Wi-Fi dari layanan fixed broadband tidak tersedia.

Kementerian Komunikasi dan Informatika pada awal tahun 2020 mencatat bahwa penetrasi fixed broadband baru mencapai 10,30 persen terhadap rumah tangga dan 2,64 persen terhadap populasi nasional.

Banyak kendala yang harus dihadapi dalam membangun jaringan fiber di Indonesia, mulai dari tingginya biaya investasi, dimana hampir 80 persen biaya merupakan pekerjaan umum seperti penggalian dan pemasangan tiang (pole), hingga perbedaan perizinan di setiap daerah sehingga right of way dan open access belum terjadi.

Di level mikro, penarikan kabel di pengguna akhir seperti perumahan atau gedung sulit dilakukan, bahkan seringkali di monopoli. Namun, hal tersebut terjadi karena penyedia layanan juga terkena beban biaya overhead yang tinggi.

Berbagai tantangan yang dihadapi saat pembangunan ternyata tidak langsung selesai begitu jaringan fiber terpasang. Saat ini tercatat baru 26,02 persen jaringan fiber di Indonesia yang terutulisasi (7,4 juta homeconnected/28,7 juta home pass).

Belum tersedianya home passpada wilayah yang potensi sebagai calon pelanggan karena operator mempersyaratkan jumlah minimal pelanggan dan batasan jarak penarikan kabel dalam rangka pengembalian biaya belanja modal yang telah dikeluarkan.

Pada akhirnya, operator saat ini memilih mencari area yang captive secara ekonomi atau bisnis dengan target minimal memperoleh 20 pelanggan selama 3 tahun. Dari sisi harga layanan, pada akhirnya operator fixed broadband bersaing ketat dengan mobile broadband sehingga tidak bisa dijual di harga tinggi. (corcomm/fim)